" />

KEARIFAN LOKAL TERHADAP PEMELIHARAAN LINGKUNGAN HIDUP Kampung Cimanggu, Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor

June 19, 2010 - 3:58 am No Comments

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Hubungan masyarakat asli atau lokal yang dekat dengan lingkungan sumber daya alam membuat mereka memiliki pemahaman tersendiri terhadap sistem ekologi dimana mereka tinggal.  Lingkungan sendiri seharusnya dipersepsikan bukan hanya sekedar sebagai objek yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia (human centris), melainkan juga harus dipelihara dan ditata demi kelestarian lingkungan itu sendiri (eco sentris). Oleh karena itu, adanya ikatan antara manusia dengan alam akan melahirkan pengetahuan dan pikiran bagaimana mereka memperlakukan alam lingkungannya. Mereka menyadari betul akan segala perubahan dalam lingkungan sekitarnya dan mampu mengatasinya demi kepentingannya. Salah satu cara ialah dengan mengembangkan sikap kelakuan, gaya hidup, dan tradisi-tradisi yang mempunyai implikasi positif terhadap pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup (Salim, 1979). Tradisi-tradisi inilah yang disebut sebagai salah satu  aplikasi sebuah kearifan lokal.

Kearifan lokal atau kearifan tradisional sendiri merupakan pengetahuan yang secara turun temurun dimiliki oleh masyarakat desa dalam mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil dari adaptasi mereka terhadap lingkungannya, yang mempunyai implikasi positif terhadap kelestarian lingkungannya (Lamech AP. et al, 1996). Berbagai macam tabu/pantangan adat, upacara-upacara tradisional, sloka-sloka, dan berbagai tradisi lainnya yang dimiliki oleh banyak suku bangsa di Indonesia, apabila dikaji dapat mengungkapkan pesan-pesan budaya yang besar manfaatnya bagi upaya pelestarian lingkungan hidup (Sanusi, 1993). Jika dibanding penggunaan teknologi modern yang seringkali berdampak negatif bagi kelestarian lingkungan hidup, misalnya penggunaan pupuk kimia atau pestisida bagi lahan pertanian dapat menyebabkan degradasi lingkungan seperti polusi tanah dan polusi air kearifan lokal merupakan salah satu alternatif pemeliharaan lingkungan hidup. Dampak penggunaan teknologi modern dalam waktu dekat memang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, namun tidak dalam jangka waktu yang lama, penggunaan teknologi ini akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Kearifan lokal yang dapat digali dan dikaji dari sebuah masyarakat dapat menjadi sebuah solusi  bagi pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup.

1.2     Rumusan Masalah

  1. Kearifan lokal apa yang ada pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu?
  2. Bagaimana peran kearifan lokal dalam menjaga lingkungan hidup pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu?
  3. Bagaimana cara melestarikan kearifan lokal pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu?

1.3. Tujuan

  1. Mengetahui kearifan lokal yang ada pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu.
  2. Mengetahui peran kearifan lokal pada lingkungan sekitar Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu.
  3. Mengetahui cara melestarikan kearifan lokal di Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu.

1.4    Manfaat penelitian

  1. Dari segi akademis, selain untuk melengkapi tugas akhir mata kuliah Sosiologi Pedesaan, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi dan bahan acuan untuk melakukan penelitian-penelitian terkait yang akan dilaksanakan.
  2. Dari segi sosial, dapat memperoleh penjelasan mengenai lingkungan masyarakat setempat dan seberapa jauh kelestarian sumber daya alam dipengaruhi oleh kearifan lokal.
  3. Dari segi praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan suatu kebijakan yang tepat bagi masyarakat pedesaan.

BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Kearifan Lokal atau dapat juga disebut kearifan tradisional merupakan pengetahuan yang secara turun temurun dimiliki olah para petani dalam mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil dari adaptasi mereka terhadap lingkungannya yang mempunyai implikasi positif terhadap kelestrian lingkungan hidup (Lamech AP. et. al, 1996).  Sedangkan Lingkungan itu sendiri dalam UU Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal  1, menjelaskan bahwa lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Kearifan Lokal sangat erat hubungannya dengan kelestarian lingkungan. Hal ini dikarenakan pentingnya memelihara lingkungan hidup bukanlah suatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum UU tersebut  diterbitkan, nenek moyang kita telah memiliki kearifan lokal dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Pemeliharaan lingkungan tersebut dilakukan dengan cara berpikir dan tradisi yang berlangsung pada zamannya, sehingga mampu menciptakan cara-cara dan media untuk melestarikan keseimbangan lingkungan (Lamech AP. et. al, 1996).

Pengetahuan yang diturunkan oleh nenek moyang kita ini, sesungguhnya terbukti menguntungkan. Terlihat dari kelestarian lingkungan hidup dengan pemeliharaan tradisional, sehingga dalam penggunaan sumber daya lingkungan tanpa menyebabkan kerusakan yang berarti dalam jangka waktu yang lama. Namun dengan meningkatnya penduduk dan banyaknya teknologi yang masuk, menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan dan ketidakseimbangan lingkungan akibat dari penggunaan teknologi yang kurang memperthitungkan aspek ramah lingkung. Kearifan lokal memilki cara-cara yang baik untuk menjaga kelesatrian lingkungan hidup, diantaranya dalam pengolahan lingkungan tidak menggunakan pertanian konvensional yang cenderung merusak lingkungan seperti penggunaan pestisida, pupuk anorganik, dll. Kearifan lokal yang ada di suatu masyarakat pasti bermanfaat bagi mereka, sebab kearifan lokal yang dibuat oleh suatu masyarakat bermanfaat bagi mereka sendiri dalam pengelolaan lahan pertanian ataupun sebagai alat kontrol sosial tertentu.

Kearifan lokal di suatu masyarakat biasanya dijaga oleh seorang tetua adat atau tokoh masyarakat. Cara menjaga kearifan lokal itu sendiri bisa dengan diajarkan kepada generasi muda yang ada. Cara mengajarkannya bisa secara terprogram atau tertulis dan juga kegiatan insidental dalam suatu masyarakat. Dengan cara menjaga dan meregenerasikan kearifan lokal yang ada di masyarakat setempat diharapkan kearifan ini tidak akan pudar atau hilang, tetapi terus hidup di tengah masyarakat dan terus digunakan untuk sebuah lingkungan hidup yang seimbang .

2.2 Kerangka Pemikiran

Kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah, tampaknya harus dipertahankan terhadap pemeliharaan lingkungan hidup. Dengan kearifan lokal yang dimiliki diharapkan dapat menjaga pemeliharaan lingkungan hidup dari teknologi modern yang merusak lingkungan.

Bagan di bawah ini menggambarkan kerangka pemikiran penelitian ini.

Fokus pengamatan yang dilakukan adalah mengenai kearifan lokal yang ada pada masyarakat di desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya. Kearifan lokal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan hidup warga sekitar, dan memiliki dampak terhadap lingkungan, yakni dampak positif yang berpengaruh pada kelestarian alam, serta dampak negatif yang berpengaruh pada kerusakan lingkungan hidup.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu Dan Lokasi Observasi

Observasi dilakukan di Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya. Waktu observasi lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 18-20 Desember 2009.

3.2 Strategi Observasi

Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:

  1. Pengamatan langsung
  2. Wawancara responden dan informan.

Kami mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui pengamatan langsung dan wawacara mendalam dengan para informan dan responden. Responden tersebut terdiri atas warga desa penelitian dan tokoh masyarakat serta pejabat pemerintahan sebagai informan. Sementara itu, untuk data sekunder diperoleh melalui berbagai literatur serta catatan-catatan instansi terkait dan pihak-pihak lainnya yang dapat mendukung kelengkapan informasi yang dibutuhkan.

3.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data diperoleh melalui pengamatan secara langsung, dan hasil wawancara  pada responden (petani Desa Gunung Malang) yang mengetahui seluk-beluk kearifan lokal di masyarakat Desa Gunung Malang. Informasi tambahan untuk melengkapi penelitian diperoleh melalui wawancara kepada informan yang dalam hal ini adalah Kepala Desa Gunung Malang. Setelah itu data  yang diperoleh akan kami analisis menggunakan metode pengolahan kualitatif.

BAB IV

GAMBARAN KAMPUNG CIMANGGU, DESA GUNUNG MALANG, KECAMATAN TENJOLAYA

4.1 Letak Geografis

Desa gunung malang terletak di kaki gunung Salak, kecamatan Tenjolaya, Bogor. Desa ini dapat di tempuh lebih kurang 45 menit dari IPB dengan menggunakan kendaraan umum.  Karena letaknya yang dekat dengan kaki gunung, membuat desa ini memiliki hawa yang sejuk dan airnya masih jernih serta memiliki tanah yang subur.  Desa Gunung Malang memiliki tiga rukun warga (RW) yang didalamnya terdiri dari beberapa kampung, salah satunya adalah kampung Cimanggu. Sebelah utara, kampung Cimanggu berbatasan dengan Kampung Pasir Ipis, sebelah Selatan berbatasan dengan kampung Bumi Asih.  Walaupun terletak di daerah yang bebukit, namun memiliki akses yang mudah untuk menjual hasil-hasil pertanian karena jalannya sudah beraspal.

4.2 Gambaran Penduduk

Kecamatan Tenjolaya memiliki penduduk dengan jumlah 50.674 dengan jumlah kepala keluarga 13.023 dengan jumlah laki-laki sebanyak 26.397 sedangkan jumlah perempuan sebanyak 24.277 jiwa (BPS Kabupaten Bogor, 2008). Penduduk Kampung Cimanggu berjumlah 1.342 jiwa terdiri dari 354 Kepala Keluarga. Kampung Cimanggu terletak di RW 2 dan memiliki 3 RT. Penduduk Cimanggu umumnya hanya mengenyam pendidikan hingga SD atau SMP. Faktor kurangnya sarana pendidikan yang memadai juga menyebabkan hal ini. Sekolah Dasar terdekat terletak di  kampung Cikareo, aksesnya kurang karena jalanannya yang berbatu dan menanjak serta tidak ada kendaraan umum yang melewati sekolah ini, sedangkan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Kampung Puswa  cukup jauh untuk dijangkau dari Kampung Cimanggu, walaupun ada angkutan umum yang melewati Sekolah ini, tentunya akan menambah beban ongkos bagi penduduk. Bukan hanya itu, tidak ada SMA yang dapat dijangkau dengan mudah dari kampung ini. SMA terdekat terletak di Kecamatan Ciampea.

Selain karena faktor pendidikan penduduk yang rendah, faktor lingkungan alamnya yang subur dan cocok untuk pertanian juga menjadi penyebab penduduk Cimanggu sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, baik yang memiliki lahan sendiri maupun yang sebagai buruh tani. Mata pencaharian lain yang digeluti penduduk adalah guru, peternak, pedagang, tengkulak, pegawai pemerintah, pengrajin bambu, dan pembajak sawah. Namun, banyak juga penduduk yang mencari pekerjaan ke kota yang menjadi buruh bangunan.

Kondisi perumahan penduduk kampung Cimanggu  sudah relatif baik, karena sebagian besar rumah penduduk sudah permanen dengan menggunakan bata, atapnya pada umumnya sudah menggunakan genteng, masing-masing rumah memiliki halaman rumah, sehingga dapat ditanami tanaman sayur-sayuran dan buah untuk dikonsumsi sendiri. Sarana kesehatan belum terlalu memadai, hanya terdapat bidan desa yaitu Bidan Suraeti. Sedangkan Dinas Kesehatan dan Puskemas pembantu terdapat di kampung Bumi Asih.

4.3 Gambaran Sumber Daya Alam

Desa Gunung Malang terletak di kaki Gunung Salak  dengan suhu udara yang relatif sejuk, kontur berlereng, dan tanah yang subur. Hal ini menyebabkan tumbuhnya berbagai  spesies tanaman, dan sumber daya alam yang melimpah.  Potensi sumber daya alam Desa Gunung Malang terdiri dari lahan persawahan, perkebunan buah-buahan, umbi-umbian, dan perkebunan sayuran. Komoditi buah-buahan di desa ini antara lain jambu, rambutan, pisang, dan sirsak. Komoditi  umbi-umbian terdiri dari singkong, talas, dan ubi, sedangkan komoditi sayuran terdiri dari komoditi buncis, jagung, kangkung, kacang panjang, dan cincau hitam. Oleh karena itu, mata pencaharian masyarakat Desa Gunung Malang sangat bergantung pada sumber daya alam tersebut, yaitu sebagai petani.  Sumber daya alam yang ada umumnya sudah dikelola oleh masyarakat sekitar dan dipasarkan untuk memenuhi  pasar di Kabupaten dan Kota Bogor, bahkan komoditi cincau sudah menembus pasar ekspor  (Taiwan).

Selain itu terdapat budidaya ikan mujaer dalam kolam-kolam yang di sebut  balong, peternakan kelinci yang dipasarkan di Kota Bogor, peternakan cacing Jerman yang digunakan sebagai pakan ikan, dan peternakan kambing yang kotorannya dapat dimanfaatkan  sebagi pupuk kandang bagi pertanian. Sumber daya alam  ini umumnya hanya dikelola sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan rumah tangga.

Potensi tumbuhsn bambu  yang terdapat di desa ini dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan yang bernilai jual, seperti keranjang bambu yang telah menembus pasar ekspor (Taiwan); perkakas rumah tangga seperti boboko, tudung saji, tampah, dan kipas sate (hihid); dan anyaman bilik yang digunakan sebagai dinding rumah.

Sumber daya alam di desa ini menjadi tulang punggung bagi keberlangsungan kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu sumber daya yang ada tetap berusaha mereka jaga agar tetap terjaga kelestariannya.

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Kearifan Lokal Desa Gunung Malang Khususnya Kampung Cimanggu

Cimanggu merupakan salah satu kampung yang terdapat di Desa Gunung Malang.  Kampung tersebut memiliki kearifan lokal yang digunakan untuk memelihara lingkungan hidup dan peningkatan produksi hasil pertanian. Kearifan lokal atau dapat juga disebut kearifan tradisional merupakan pengetahuan yang secara turun temurun dimiliki olah para petani dalam mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil dari adaptasi mereka terhadap lingkungannya yang mempunyai implikasi positif terhadap kelestrian lingkungan hidup (Lamech, et al, 1996).

Kearifan lokal yang ada di Desa Cimanggu berupa sistem penanggalan dalam pertanian, misalnya penanggalan musim tanam. Sistem penanggalan ini adalah sistem penanggalan sunda yang dalam penentuannya dilihat dari perkiraan posisi bulan. Misalnya masa tanam dilakukan pada saat sebelum bulan ramadhan dan dihitung dari satu muharam. Dahulu sekitar tahun 60-an, Penduduk Desa Gunung Malang memegang sebuah budaya tersendiri dalam mengolah lahan pertanian mereka. Mereka tidak mengenal perhitungan bulan konvensional , tetapi hanya mengenal perhitungan bulan-bulan Islam, dan menyakini bahwa hanya terdapat 30 hari dalam satu bulan.  Dalam menentukan penanggalan waktu tanam umumnya petani  menggunakan bulan sebagai petunjuk, ketika bulan terlihat terang berarti menunjukkan tanggal muda (1-10), tanggal satu ditetapkan ketika bulan tepat di atas kepala dan ketika bulan gelap berarti menunjukkan bulan tua (17-30). Petani  di  Desa Gunung Malang  memiliki semacam “ilmu batin” yang bisa menunjukkan kapan seharusnya menanam, dan kapan seharusnya tidak menanam. Ketika pada waktunya tidak boleh menanam, berarti seluruh petani harus serentak tidak boleh menanam, jika ada yang menanam umumnya terjadi “malapetaka” tertentu seperti lahan pertaniannya terkena hama, atau tidak tumbuh dengan subur.

Selain itu pada saat panen, para petani biasanya membuat acara rujakan dan juga beberapa makanan tambahan seperti ayam dan telur. Ritual ini biasanya dilakukan di pusat air yang sudah dibubuhi dengan doa-doa dengan tujuan mendapat berkah dari Sang Khaliq. Namun kebiasaan ini telah pudar, hanya orang-orang tertentu yang melaksanakan yaitu orang-orang tua. Bahkan ritual ini  menimbulkan pro dan kontra karena sistem tersebut tidak dapat diterima secara logis oleh masyarakat angkatan muda.

Tradisi yang juga biasa dilaksanakan oleh masyarakat Cimanggu adalah ketika maulid nabi, dedaunan diikatkan ke pohon. Tradisi ini dipercaya dapat menjaga pohon dari serangan hama dan pohon cepat berbuah.

Selain contoh kearifan lokal yang ada diatas, di Desa Gunung Malang juga terdapat kearifan lokal dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Lingkungan hidup itu sendiri adalah apa saja yang mempunyai kaitan dengan kehidupan pada umumnya dan kehidupan manusia (Sastrosupeno, 1984). Salah satu contoh pemeliharaan lingkungan hidup yang ada di Desa Cimanggu adalah gotong royong. Misalnya pada saat hari-hari besar seperti pada perayaan 17 Agustus masyarakat Cimanggu melakukan gotong royong. Namun sekarang gotong royong tersebut sudah tidak lagi dilaksanakan, karena tidak lagi diagendakan oleh kepala desa setempat. Sehingga sekarang pemeliharaan lingkungan hidup dengan gotong royong tidak lagi dilaksanakan. Akibat dari pemeliharaan lingkungan hidup yang tidak lagi dilaksanakan, keadaan kampung tersebut kurang terurus kebersihannya. Meskipun begitu, masyarakat kampung tersebut membuat inisiatif sendiri dengan membuat lubang di pekarangan rumah sebagai tempat pembuangan sampah, kemudian di bakar.

5.2 Peranan Kearifan Lokal terhadap pemeliharaan Sumber Daya Alam di Desa Gunung Malang Khususnya Kampung Cimanggu

Petani pada tahun 60-an selalu menggunakan “ilmu batin” ini dalam menentukan waktu tanam, pengistirahatan tanaman, dan panen. Sehingga panen selalu memberikan hasil yang baik dan lahan pertanian mereka tidak pernah terserang hama yang serius. Kearifan lokal ini sesungguhnya berperan penting terhadap sistem pertanian berkelanjutan, melalui penghitungan menggunakan “ilmu batin” tersebut, petani tidak pernah menggunakan pestisida untuk memberantas hama, dan tidak menggunakan pupuk-pupuk kimia yang berdampak buruk bagi kesuburan tanah kedepan, karena mereka sudah dapat memprediksinya. Sehingga hasil panen yang mereka hasilkan tidak mengandung residu kimia yang berbahaya bagi kesehatan konsumen, dan tidak digunakannya pestisida, herbisida, maupun pupuk kimia berdampak langsung terhadap terjaganya unsur-unsur hara tanah, sehingga tanah tetap subur dan produktif.

Para petani padi pada saat itu umumnya hanya panen dua kali dalam setahun, mereka tidak terus-menerus menggarap lahan pertanian mereka. Ada saat-saat ketika “ilmu batin” itu melarang untuk menanam selama beberapa bulan. Sehingga lahan pun dapat beristirahat untuk mengembalikan kesuburannya. Padi yang ditanam masyarakat adalah padi Kewang atau Sri Kuning. Sebelum masa orde baru dan sebelum adanya program ‘revolusi hijau’ padi jenis ini merupaka padi andalan masyarakat dengan rasanya yang lebih enak. Jenis bibit ini selalu diwariskan ke keturunan berikutnya. Tetapi, setelah pelaksanaan ‘revolusi hijau’ kini jenis padi ini telah hilang dari masyarakat Cimanggu karena dari segi hasil jenis padi yang ditawarkan pemerintah melalui ‘revolusi hijau’ lebih melimpah hasilnya dengan perbandingan hasil panen 1 banding 3 dan panen dapat mencapai tiga kali setahun.

Keterjagaan tanah, tanaman, dan ekosistemnya menunjukkan bahwa kearifan lokal tersebut berpihak pada pemeliharaan kelangsungan sumber daya alam, dimana tanah tidak terus tereksploitasi untuk berproduksi menggunakan perangsang pertanian yang tidak bersahabat dengan alam, ekosistem didalamnya tidak terganggu kehidupannya, begitu juga dengan manusia yang bisa mengonsumsi pangan hasil panen dengan aman. Kearifan lokal ini sesungguhnya dapat menjadi cerminan pemeliharaan sumber daya alam  kedepan, dalam bentuk pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan yang menghasilkan, namun tetap arif terhadap alam.

Kearifan lokal lainnya yang berdampak terhadap pemeliharaan sumber daya alam adalah tradisi gotong royong untuk membersihkan kampung, dimana masyarakat sama-sama bahu membahu mebersihkan lingkungan mereka sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan kondusif bagi kesehatan warga. Selain itu terdapat kearifan lokal seperti ritual-ritual seperti ngabakakak hayam, atau rurujakan sebelum menanam, dan ketika panen. Hal ini memang tidak berdampak langsung terhadap pemeliharaan sumber daya alam, namun kearifan lokal ini menimbulkan solidaritas antar warga Desa Gunung Malang yang semakin kuat.

Kearifan lokal yang ada di Desa Gunung Malang khususnya Kampung Cimanggu dalam penerapannya tidak menunjukkan dampak negatif secara langsung bagi pelestarian lingkungan hidup khususnya lahan pertanian.

5.3 Pelestarian Kearifan Lokal Pada Masyarakat Desa Gunung Malang Khususnya Kampung Cimanggu

Dalam eksistensinya, kearifan lokal sangat bermanfaat terutama dalam proses pengidentifikasian suatu daerah yang menunjukkan kekhasan daerah tersebut yang membedakannya dengan daerah lain. Pelestarian kearifan lokal sangat penting karena  dapat dijadikan sebagai filter (penyaring) bagi kebijakan-kebijakan yang masuk ke daerah tersebut sebagai akibat dari adanya otonomi daerah. Pelestarian kearifan lokal dapat dilakukan oleh komunitas tersebut ataupun dengan bantuan dari pemerintah.

Kearifan lokal yang ada di kampung Cimanggu berupa gotong royong dapat dilestarikan dengan senantiasa menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan lingkungan adalah penting bagi kesehatan warga, apalagi mengingat dengan kebiasaan warga yang membuang sampah diselokan.  Menurut penuturan RW setempat, setiap bulan ada program membersikan selokan secara gotong royong. Sedangkan, sistem kearifan lokal  yang berupa sistem penanggalan pertanian sudah mulai ditinggalkan, terlihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang menggunakan sistem ini, hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan (kini tinggal satu orang warga yang masih sangat kental pengetahuannya tentang kearifan lokal ini, sehingga menjadi tokoh masyarakat yang akan selalu dimintai pendapatnya ketika ada orang yang akan melaksanakan sistem ini), karena generasi muda menilai sistem ini masuk akal dan bertentangan dengan nilai-nilai agama, sehingga generasi muda sebagai penerus kearifan lokal tersebut relatif sedikit. Dengan semakin banyaknya ilmu-ilmu baru tentang pertanian serta kemajuan teknologi  menyebabkan semakin memudarnya kearifan lokal di kampung Cimanggu.

BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1 Kesimpulan

Desa Gunung Malang Kampung Cimanggu memiliki kearifan lokal untuk peningkatan hasil pertanian dan pemeliharaan lingkungan hidup. Kearifan lokal tersebut meliputi sistem penggalan yang juga disebut sistem penanggalan Sunda digunakan untuk menentukan musim tanam sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian dan juga menghindari hama. Kearifan lokal lainnya adalah pengikatan daun ke pohon untuk menjaga pohon dari serangan hama dan agar pohon cepat berbuah. Kearifan local lainnya yang berdampak terhadap pemeliharaan sumber daya alam adalah tradisi gotong royong untuk membersihkan kampung.

Kearifan local tersebut di atas dapat menjadi cerminan pemeliharaan sumber daya alam  kedepan, dalam bentuk pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan yang menghasilkan, namun tetap arif terhadap alam. Pengurangan penggunaan pupuk kimia dan pestisida berbahaya dan menggantinya dengan pupuk alami dan pestisida nabati merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan pekerja-pekerja pertanian saat ini.

Kearifan lokal yang ada di kampung Cimanggu berupa gotong royong dapat dilestarikan dengan senantiasa menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan lingkungan adalah penting bagi kesehatan warga, apalagi mengingat dengan kebiasaan warga yang membuang sampah diselokan. Sistem kearifan lokal  yang berupa sistem penanggalan pertanian sudah mulai ditinggalkan, terlihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang menggunakan sistem ini, hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan.

6.2  Rekomendasi

Desa Gunung Malang khususnya Kampung Cimanggu adalah desa yang memiliki kearifan lokal. Kearifan lokal ini kini hampir hilang dari masyarakat. Padahal, kearifan lokal ini telah berkontribusi dalam memelihara lingkungan hidup dan telah meningkatakan hasli pertanian. Sistem pengetahuan modern adalah salah satu penyebab tidak eksisnya sistem ini. Ada baiknya kalau sistem ini dipelihara dalam bentuk catatan atau dokumen ilmu pengetahuan tradisional Indonesia agar sistem ini selalu diingat menjadi sumber pengetahuan dari masa yang lampau. Meskipun sistem pengetahuan ini tidak digunakan atau bertentangan sistem nilai masyarakat sekarang tetapi budaya indonesia harus tetap dilestarikan sebagai bentuk arsip tradisional desa-desa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Lamech dan Prioyulianto Hutama. 1995. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Daerah Irian Jaya Di Kabupaten Jayapura dan Biak Numfor

Dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat   Jendral Kebudayaan, Bagian Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Irian Jaya.

Mitchell Bruce. 2007. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan .Penerjemah: Setiawan B, Dwita Hadi Rami. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mulyanto HR. 2007. Ilmu Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sastrosupeno, M.Supriyadi. 1984. Manusia, Alam dan Lingkungan. Jakarta:   DEPDIKBUD.

Susilo Rachmad K. Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Zuraida Tanjung, dkk. 1992. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup Daerah Sumatera Utara. Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat   Jendral Kebudayaan, Bagian Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sumatera Utara.

Leave a Reply